Thursday, January 19, 2012

Mencintai sejantan Ali bin Abi Talib (Kisah Cinta Ali & Fatimah)

Kisah ini diambil dari buku Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A.Fillah
chapter aslinya berjudul “Mencintai sejantan ‘Ali”

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.

Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.

Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.

Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.

’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.

”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.

Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.

’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”

Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.

’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan.
Itulah keberanian.
Atau mempersilakan.
Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak.

Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.

Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adzkah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. ”

”Aku?”, tanyanya tak yakin.

”Ya. Engkau wahai saudaraku!”

”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”

”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.

”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.

Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”

”Entahlah..”

”Apa maksudmu?”

”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”

”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,

”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.

’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda ”

‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”

Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”

Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”

Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:

“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4).



p/s : berapa ramai lelaki hari ini yang gentleman...?? 


Monday, January 16, 2012

Accidently Accident...~

Allah mahu menguji...~

Hari ni dugaan buat saya... 2 kejadian berasingan yang menyebabkan saya berada dalam keadaan terkejut yang teramat sangat. Kejadian pertama ketika dalam perjalanan ke tempat kerja; terdapat kereta memotong kereta lain di selekoh, dan yang membuat saya sangat terkejut bila saya melepasi selekoh, kereta tersebut berada betul-betul dihadapan saya dalam arah yang bertentangan (sebab dia memotong kereta lain). Hampir nak gugur jantung saya.

Apabila tiba di trafik light persimpangan MITC, saya sempat text suami, "Kalau macam ni la sikap pemandu di Melaka ni, boleh terberanak saya dalam kereta sebab terkejut."
Tak sampai lima belas minit saya text suami, saya mengalami sedikit kemalangan di bulatan MITC. Sekali lagi saya mengalami kejutan. Tapi kali ni kejutan yang super duper... Mengigil seluruh badan dan mengalami sakit perut...Haaaa... Dalam kepala hanya teringatkan baby je... Sebijik lori telah menggesel kereta saya, akibatnya pecah side mirror dan bumper depan kereta kemik dan calaaaarrr...~
Saya terberhenti di tengah-tengah roundabout kerana terkejut. Tapi malangnya lori berkenaan berlalu dengan begitu sahaja tanpa perasaan bersalah. Saya kejar lori tu sebab nak ambil nombor plate. Tapi tak nampak... T__T dan lori tu lari dengan lajunya.
Saya tak mampu nak kejar sebab dah sakit perut sangat. Kalau tak teringatkan baby dalam perut ni, memang saya kejar sampai dapat. Tak kira la siapa yang salah...

Mungkin 2-2 yang bersalah, sebab 2-2 tak berada di lorong yang betul... Saya terus berhenti tepi dan call abang saya. Suara dah macam nak nangis dah masa tu. Tapi control lagi. Sebab saya kena kuat. Tapi bila suami call, terus air mata ni mencurah-curah dengan lajunya... Aduhai...~ Kemudian abang saya bawa ke bengkel kawannya untuk repair. Terima kasih along. Kalau along tak ada saya tak tahu nak call siapa. Aman jauh.

Kereta tu belum pun setahun lagi saya pakai... Adeyhh...~ tak apalah... Ini dugaan...~ Yang penting saya dan baby selamat. Tapi terasa macam sedikit trauma nak drive kereta dalam keadaan sekarang ni. Saya terkejut mungkin sebab saya pregnant. Saya bukan sahaja kena fikirkan keselamatan diri, tapi jugak keselamatan baby dalam kandungan...~



p/s : terasa macam nak tumpang along je pergi kerja...takut nak drive tengah sarat-sarat ni...~

Tuesday, January 10, 2012

Birth Preparation

Barang-barang mama untuk dibawa ke hopital 
checked


Barang-barang baby untuk dibawa ke hospital
checked


Standby those bags dalam kereta
checked

Standby buku merah
checked

Baby cot
checked
 
Tilam & Bantal baby
checked

Preparation untuk sakit
unchecked  

:D ngeeee...~  




p/s : harap-harap incek suami ada kat sini masa sakit...xmo jauh-jauh...~

Thursday, January 5, 2012

Tak tahu nak letak tittle ape...adeyh...

Kisah tentang Amalina membuat saya rasa terpanggil untuk menulis entry ni. Memang sifat manusia barangkali, suka mempertikai dan mengkritik orang lain tanpa terlebih dahulu menilai diri sendiri. Memang sudah sifat manusia barangkali, mempercayai dengan apa yang dilihat tanpa mengetahui kebenaran yang tersirat.

Pada saya...kenapa isu Amalina ni diperbesarkan...??? Padahal banyak lagi isu anak remaja di Malaysia ni yang perlu dipandang serius. Saya pernah terbaca berita tentang remaja perempuan berumur hanya 13 tahun ditangkap khalwat dan dipercayai telah melakukan hubungan sex dengan kekasih... Persoalannya di mana ibu bapa remaja perempuan tersebut..?? Apakah mereka tidak mengetahui aktiviti anak mereka...??? Remaja tersebut hanya berumur 13 tahun...masih di bawah umur untuk melakukan perkara-perkara seperti itu. Jadi kenape isu Amalina ni ibarat Amalina telah melakukan sesuatu perkara yang amat berat. Sekurang-kurangnya kita mengetahui pada ketika gambar itu di ambil, ibunya ada bersama... Malah ibunya yang merakamkan gambar tersebut.

Kita hanya tahu mengkritik sesuatu perkara melalui mata... Sekiranya apa yang kita lihat itu tidak senonoh maka kita dengan mudahnya menjatuhkan hukuman... Janganlah mudah menilai seseorang itu dengan apa yang kita lihat tanpa mengetahui perkara sebenar.

Percaya atau tidak...cabaran membesarkan anak-anak zaman sekarang tidak sama dengan zaman ibu bapa kita membesar kan kita... Kalau dahulu kita dibesarkan dengan tali pinggang, getah paip dan penyangkut baju... Zaman sekarang semua tu dah tak relevan lagi... Malah akan dianggap kes penderaan pula. Tapi percaya atau tidak, tali pinggang, getah paip dan penyangkut baju itulah yang menjadikan kita manusia pada hari ini.

Mengimbas bagaimana saya dan adik beradik dibesarkan oleh mama dan arwah ayah : Dikurung dalam bilik air, dikurung di luar rumah pada malam hari adalah perkara biasa... dan itulah yang menjadikan kami manusia pada hari ini.
Tapi pendekatan sedemikian sudah tidak relevan lagi...keluar pula dalam akhbar anak didera.

Kesimpulannya, kalau zaman mak-mak kita membesarkan anak mereka dengan tali pinggang dan getah paip, zaman sekarang pendekatannya berbeza... Psychology... Dengan menjadi kawan kepada anak-anak baru kita tahu bagaimana mahu mengawal mereka dari terjebak dengan gejala yang tak bermoral. Mungkin itu pendekatan yang digunakan oleh ibu Amalina.
Bukan senang nak besarkan anak-anak zaman sekarang. Kerana saya juga akan menjadi ibu dan akan ada anak perempuan. Setiap hari memikirkan bagaimana saya mahu membesarkan anak ini jika setiap hari terbaca dengan berita-berita tentang remaja yang terlibat dengan salah laku sosial... Nauzubillah... Mintak dijauhkan...

Sebelum kita menilai tentang orang lain...nilai dulu diri kita. Mampu tak kita membesarkan anak-anak kita suatu hari nanti....